0 komentar

Godaan itu dekat sekali dengan kesenanganmu!

Pada hakekatnya manusia mudah sekali gagal dalam ujian hidup yang berupa kesenangan. Manusia lebih kuat bertahan jika diuji dengan kesusahan dan kesempitan. Namun, akan mudah jatuh dalam ujian yang berupa kesenangan dan hal-hal nikmat yang melenakan.
Sedangakan kita tahu bahwa hidup di dunia ini adalah ujian. Hidup yang singkat teramat sayang jika kita sia-siakan hanya dengan mengejar kesenangan dunia semata. Semoga kita fokus dengan apa yang menjadi cita-cita kita. Sehingga kita tetap fokus walaupun ujian baik yang berupa kelapangan maupun kesempitan mendera tak kunjung ada hentinya.
Mumpung bulan ramadhan, Elang harus fokus pada:
1. Riyadhoh ibadah wajib dan sunnah.
2. Mewujudkan cita-cita, Lulus segera (semoga bisa segera lanjut S2) amin.
3. Mendalami hobi dan mimpi (Jurnalis dan Penulis).
Dengan sholawat, doa dan ikhtiar insya Allah semua akan dimudahkan. Allohumasholi'ala syayidinna Muhammad wa 'ala 'ali syayidinna Muhammad... Hasbunnalloh wanikmal wakil nikmal maula wanikmannasir. Amin.
READ MORE
0 komentar

Revisi

Sabtu minggu kemaren bapak memintaku pulang. Beliau menelphonku saat masih di tengah sawah. Panen terakhir karena padi yang ditanam tidak terlalu bagus. Sehingga bapak dan emak memutuskan untuk memanen sendiri. Padahal yang lain sudah dalam proses tanam lagi. Tapi bukan karena itu aku dan adikku diminta pulang. Bapak adalah seorang yang religius, suka sekali menimba ilmu dengan Kyai dan Wali. Syarif Hidayatullah lah ulama yang bapak percaya dan yakini sebagai Wali Allah. Bahkan karena saking sukanya dengan Abah (Panggilan akrab Kyai Syarif Hidayatullah) bapak sedari aku masih kecil rutin mengajakku mengikuti pengajian Jum'at Pahing dan Minggu lagi. Meski harus bersusah payah, apalagi bapak cuma orang sederhana (untuk menghindari mengucap miskin). Dan kebiasaan itu terus berlanjut hingga adik kandungku lulus SMP bapak memondokkan di Pesantren Nurul Huda yang tidak lain dan tidak bukan adalah Pesantren yang dibahurekso oleh Abah Syarif. Sejak itu keluarga kami jadi makin sering dan rutin ke Pesantren. Meski Abah tidak mengenal keluarga kami dengan baik. Kami sadar kami hanya orang biasa. Alhamdulillah adikku dekat dengan istri-istri dan anak-anak Abah serta para guru dan pengurus pesantren. Apalagi adikku adalah juara 1 dari semester I hingga lulus di Aliyah itu. Karena Minggu legi itulah bapak meminta kami pulang. Meminta kami pulang untuk mengaji. Itulah tujuan beliau. Bukan untuk membantu pekerjaannya yang sulit dan berat. Karena di musim kemarau bertepatan dengan bulan ramadhan. Panen padi adalah hal yang luar biasa berat bagi petani. namun, bapak menjalininya dengan senang hati. begitulah bapak, orang yang penyabar dan menerima. Aku dan adikku yang membantu meringankan saja tak sekuat mereka berdua di sawah. Aku sendiri cuma bisa bantu Ngarit padi dan membawanya pulang. Selebihnya dikerjakan oleh bapak dan Ibu. Adikku juga membantu ngarit meski harus dengan duduk jongkok. "Benar-benar merusak keindahan sawah cara dia bekerja." Timpalku dengan gaya kerjanya.
Sekembali dari rumah aku berangkat petang. Tepat sehabis subuh karena surat motorku yang tak lengkap, gara-gara tetangga kampung yang meminjam BPKB motor pada bapak namun membawanya pergi tak jelas kemana. Begitu sampai di kos seperti biasa aku mulai membuka Netbook 'Abdell' tercinta. Tiba-tiba ada sms masuk, Mr. Luthfy dosen pembimbing skripsiku. "Assalamu'alaikum, Sin kw dimana? Sudah ditunggu penguji dr tadi..." Aku terkaget bukan kepalang. Karena Jum'at kemaren aku sudah melihat jadwal dan hari senin tidak ada namaku terpampang di sana. Singgkat cerita aku langsung ke ruang sidang dengan persiapan seadanya. Alhamdulillah semua lancar. Meski banyak revisi dan aku harus menyelesaikannya dalam lima hari. Semoga aku bisa menyelesaikannya dengan cepat dan benar. Aku berdoa untuk semua yang telah berjasa dalam menyelesaikan skripsiku ini. Semoga dibalas oleh Yang mahakuasa dengan lebih baik. Amin.

READ MORE
0 komentar

Sang Pencangkul

Terik dalam benak masih terus saja meradang. Siang tak kunjung pamit pulang. Kau masih saja berteman dengan tanah batu. Tanah batu? iya, sebenarnya hanya tanah hitam biasa hanya saja telah berubah keras karena telah lama tak terguyur hujan. Dahulu, jauh sebelum kau mengenal kata Global Warming kau betah berlama-lama di hutan, sawah dan ladang. Bahkan sudah kau anggap mereka semua sebagai sahabatmu sendiri. Namun, akhir-akhir ini sahabat yang dulu kau bangga-banggakan itu, kini tak ramah lagi, bahkan menjadi buas, bringas dan kejam.
"Apa salahku pada kalian? Kenapa begitu tega kalian membuatku menderita seperti ini." gumammu tak jelas, suaramu parau antara haus dan terhalang tekanan duka yang dalam.
Kenangan indah saat bersama sahabat-sahabatmu dulu kembali membayang. Pagi itu kau naik di atas punggung kerbau, seruling bambu yang kau tiup begitu merdu hingga angin sejuk sepoi-sepoi mengikuti kemanapun langkahmu. Cahaya mentari menyinari penuh kehangatan. Rumput hijau yang subur terhamparan di antara rindang huta.
"Ah, kenapa sekejab saja berubah menjadi panas, gersang, dan mengerikan seperti ini! Hutanku yang dulu sekejab saja disulap menjadi lahan. Sungguh jika aku tahu akan begini jadinya tak kuikuti ajakan para Blandong sialan itu."
Sesal memang adanya di belakang. Setidaknya semua itu bisa mengingatkanmu. Betapa dulu kau juga telah berbuat kejam pada sahabat-sahabat yang telah menjagamu itu. Kini kau menyesal, apa yang hendak kau lakukan setelah pohon-pohon besar yang berusia ribuan tahun itu kau tebang? Sesal sudah tiada guna. Kau hanya bisa memejamkan mata. Merenungi, menghayati dan memikirkan pelajaran Alam Sekitar Kita yang dulu pernah kau dapat waktu SD. Reboisasi, sebuah jawaban dari berbagai pertanyaan yang bisa kau jawab dengan benar saat bu guru menanyaimu itu tiba-tiba terus saja terngiang-ngiang.
***
Ada angin sedang asyik berdansa meliuk dan berputar dengan lincah dihadapanmu, membawa udara kering sebagai selendangnya, bergaunkan debu, bermahkotakan daun kering dan kertas beraneka warna menghias serta plastik dari tempat pembuangan sampah semakin indah kala menyapu berpendar mentari yang ganas membakar permukaan bumi. Sudah yang kali kelima ini kau jumpai tanmanmu itu kering. Tak kuasa menahan terik yang teramat. Kau hanya bisa menangis dan tak tahu lagi harus menanam dengan cara apa lagi di cuaca yang terik dan ganas seperti itu.
"Seruling!"
Entah dapat bisikan dari mana setelah sekian lama kau lupakan alat musik itu. Tiba-tiba kau kembali mengingat dan mencarinya. Kau coba mengingat dimana terakhir kali kau letakkan seruling bambu warisan turun temurun kakek buyutmu itu. Juga kerbaumu yang kau jual untuk membayar denda agar kau terbebas dari hukuman kurungan karena tertangkap nyolong kayu. Kerbau yang amat kau sayangi itu dengan terpaksa kau jual. Dengan berat hati kau abaikan weling kakek buyutmu sebelum meninggal.
"Berjanjilah ngger! Tak akan kau jual kerbau warisan turun temurun keluarga kita itu."
"Innjih Kek. Aku Janji!"
Namun, dengan terpaksa kau ingkari. Hingga sudah hampir sepuluh tahunan ini, kau tak berani untuk sekedar berziarah ke makam para leluhurmu. Meski dalam mimpi mereka selalu menemuimu. Mereka rindu dengan cerita-ceritamu, kisahmu dengan Sekar, Gadis Dayak yang berkulit putih, bermata bening, dan beraromakan nafas yang khas itu. Bukankah kau sangat mencintainya dan begitu pula dengan dirinya? Kenpa kau tidak lagi mau mengunjungi Pusara leluhurmu? Berbagai pertanyaan dalam mimpi hanya kau biarkan menguar dan hilang bersama arama nafamu saat menguap setiap kali bangun tidur itu.
"Nah! Ini ketemu juga kau seruling ku sayang." Kau kecup lembut seruling bambu kuning itu setelah kau bersihkan dengan baju kusutmu.
Kau mainkan seruling itu sepenuh hati. Tak lupa kau iringi dengan syi'ir Sholawat nabi. Angin sepoi-sepoi mendekati. Mendung di langit mulai menggantung. Petir menyambar. Hujan pun turun. Alunan seruling bambu terus mengalun hingga mentari menyapamu dengan senyum hangat sahabat dekat. Kau rentangkan kedua tanganmu seakan hendak memeluk seseorang. Matamu terpejam penuh penghayatan. Dengan tulus kau ucapkan, "Selamat datang kawan."



READ MORE
0 komentar

Sebait Puisi Lebih baik Dari Pada Tidur

Pesan cinta terlantun di antara gema
mereka menabrak tembok dan kaca
tertangkap selaput jaring selembut sutra
merasuk di relung jiwa

Cinta....
rayuanmu begitu menggoda
hanya yang teristimewakan saja
kelak mampu menatap wajahnya

Oh, cinta....
aku tergoda
dengan sungguh ingin ku gapai
ku raih dirimu
menggema di dada
rinduku tuk berjumpa
sukedar menatap wajahmu
kalahkan inginku bertemu bidadari surga
mbrebes mili mata ini
saat ku sebut namamu
sholawatku untukmu cintaku
ya nabi Allah Muhhamad 'ibni abdillah

Malu rasanya dengan induk ayam dan anak-anaknya. Sepetang ini sudah bertebaran menjemput rizqy Tuhan. Teman-teman begitu pulas tertidur. Sedangkan aku hanya bisa jauh menerawang. Entah kemana khayalanku hendak berkelana. Wajah wanita yang pernah singgah lagi-lagi berkelebatan menggoda. Lagi-lagi aku hanya bisa berdoa untuk kebaikannya. Rasa ingin memilikinya sudah sudah menguar bersama hari yang mulai siang. Burung-burung kecil beterbangan juga mencoba memecahkan puzle rizqy Tuhan. Lagi-lagi aku hanya bisa mengelus dada.
Aku seorang mahasiswa tingkat akhir yang terjebak rasa bimbang oleh cinta, hingga terjerambab dalam duka yang teramat dalam. Alhamdulillah aku bersyukur bisa memetik hikmah. I wasted much time. Pagi tadi aku menyimak lagi kuliah subuh wisata hati Yusuf Mansyur. Jika dia tahun 1999 sadar bahwa dia sudah menyia-nyiakan usianya. Dan aku tahu dia sukses 2012 maka dia butuh waktu 13 belas tahun untuk membalik keadaan. Salah satu bentuk taubatnya adalah mengurangi tidur hingga sekitar lingkaran selaput kulit matanya menghitam. Aku juga pernah menghindari selaput mataku agar tidak hitam dengan tidur 8 jam sehari. Tapi sekarang aku ingin meniru ikhtiar Yusuf Mansur untuk mengurangi tidur. 
Hingga tadi begitu aku selesai sholat sunnah duha, untuk memotivasi diriku aku membuat semboyan agar tidak tidur "Sebait Puisi Lebih Baik Dari Pada Tidur". Ini juga untuk memotivasiku agar bisa mewujudkan salah satu cita-citaku untuk menjadi penulis yang produktf dan aku beriktiar agar tidak terkena dampak Kaburomaktan dalam surah ash-shof. Aku ingin menulis dan mempraktekan dan apa yang aku praktekkan aku tuliskan. Ramadhan adalah bulan pencerahan. Semoga setiap kita bisa menjadi pribadi yang muttaqin. amin.
READ MORE
0 komentar

Kemarau Hati

Ada rombongan embun naik ojek
clingak clinguk mencari jalanan becek
kering kerontang sejauh pandang
terik meradang di atas ranjang

Ada gerombolan debu terpasung rantai baja
terbebas dari jerat 
karat hancurkan baja syari'at
mengepung nafas dunia
antarkan makrifat menembus sekat
luruh dalam persenggamaan maksiat

Bahak tawa menggema dalam dada
ciptakan kemarau panjang lobang mata
hujan bencana kembali menyapa
saat jatah setan diambil manusia

READ MORE
0 komentar

Rising in Ramadhan

Alhamdulillah, sungguh aku ingin selalu mengucapkan rasa syukur atas segala nikmat. Sungguh beberapa waktu yang lalu aku telah menzhalimi diriku sendiri. Pada ramadhan kali ini benar-benar memberiku kesan yang berbeda akan manisnya sebuah iman. Rasa cinta pada Sang Mahapencipta benar-benar merasuk ke relung hati, menembus jiwa, dan mengalirkan kekuatan positif yang berlipat-lipat.
Cinta, mungkin aku pernah terjebak dalam tipu dayanya. Tiga orang wanita yang pernah dekat denganku telah mengajarkanku banyak hal. Sebuah pelajaran hidup yang membuatku lebih mengerti sosok wanita. Kini aku telah memasuki fase kebangkitan setelah tiga tahun dalam fase penyembuhan. Semua karena rasa cinta. benar kata orang, "sesuatu yang mampu menciptkan kekuatan untuk bangkit juga berpotensi sama untuk menjatuhkan." Dahulu aku hanya salah dalam mengerti tentang cinta. Pikiranku masih sangat dangkal untuk menyerap kedalaman maknanya. Sekarang aku mengerti bahwa cinta itu luas dan terbatas. Manusia sendirilah yang membatasinya.
Cintaku pada keluargaku, khususnya kepada kedua orang tuaku yang telah menunjukkan betapa besar cintanya padaku mampu mengembalikan semangtku dan menguatkanku untuk bangkit. Bapak, khususnya dirimu yang mengajariku tanggungjawab dari kecil, bahkan hingga dewasa ini. Engkau masih terus menyuapiku dengan cinta dan kasihmu. Dengan tanggungjawab dan kerja kerasmu aku tahu, engkau ayah terbaik sepajang zaman bagiku. Ibu, air mata ini luluh lantak tak terkendali setiap kali menyebut namamu, mengingat wajahmu. Kau terus mengguyurku dengan kasih sayang, ketulusan dan kelembutan dalam setiap tatapan matamu yang sayu karena setiap pagi-pagi sekali sebelum azan Mushola berkumandang kau sudah harus bangun menyiapkan makan untuk suami dan anak-anakmu. Bukan dengan kompor gas tapi dengan tungku yang berbahankan kayu bakar, dengan asap yang menyegrak di kerongkongan, pedih di mata. Namun kau jalani semua itu tanpa keluhan. Kau melangkah pelan, bekerja tenang agar aku tak terganggu tidurku. Kabangunkan aku dengan cinta begitu azan berkuamndang.
"Sayang, ayo bangun.... sudah azan tu."
Aku selalu senang menatap wajahmu yang berbinar. Seakan engkau akan berjumpa dengan seorang yang teramat istimewa di Mushola yang kecil dan kotor itu. Kotor? iya. Mushola itu penuh dengan sarang laba-laba dan debu. Hanya tempat yang pernah disinggahi manusia saja yang nampak bersih. Selebihnya memprihatinkan.
"Jika kaya kelak ingin rasanya aku menyumbangkan hartaku untuk membangun Masjid yang megah di tengah-tengah kampung halaman ku tercinta." Batinku.
Dulu aku tak tahu bahwa hal semacam itu juga bisa diminta dalam doa. Baru setelah aku mengikuti ceramah Yusuf mansyur aku tercerahkan akan seluk beluk doa. Doa membuatku semakin optimis melangkah maju, meniti jalan dan menaiki setiap anak tangga menuju puncak impianku. Jujur aku katakan, aku tak punya apa-apa, aku hanya punya Allah yang akan memeluk mimpi-mipiku.
Sekarang aku sedang menunggu jadwal Munoqosah. Sebuah test akhir yang akan menyatakan bahwa aku ini layak lulus atau tidak. Jujur aku sangat khawatir dengan hal itu. Sudah tujuh tahun aku habiskan masa kuliahku. DO (Drop Out) atau dikeluarkan dari kampus adalah mimpi buruk yang selalu menggaguku siang dan malam. Wajah kedua orang tuakulah yang membuatku kembali menancapkan semangat menulisku. Mimpi-mimpiku yang pernah aku kubur dalam-dalam. Aku gali lagi dan kemabali aku tata, sesuai dengan kemampuanku sekarang.
Demi menjada keseimbangan hidup. Aku terus mencoba dan mencari kerja. Mencoba menulis di koran dan majalah, membuat novel dan kumpulan cerpen sudah aku lakukan namun sepertinya belum ada tanda-tanda nafas segar hingga sekarang. Free lance marketing dari travel, asuransi dan periklanan juga belum membuahkan hasil yang menggembirakan. Bahkan jualan HP dan buku pun aku kerjakan. Namun sayang seribu sayang semua itu hanya membuatku menelan pil pahit dari getirnya hidup yang teramat dalam.
Sedangkan sebagai pria normal yang sudah matang aku juga sama, ingin mersakan lagi indahnya cinta yang pernah menyapa. Bayang-bayang dan kenangan bersama tiga wanita yang pernah dekat dengaku itu masih saja menghantuiku. Wanita pujaan yang sekarang sudah punya kehidupan masing-masing itu hanya membuatku tersadar betapa mudah aku terjerumus dalam lumpur dosa kala dekat dengan mereka. Meski juga banyak hikmah hidup yang juga bisa aku petik dari kebersamaan dengan mereka. Aku hanya bisa berdoa, "dimanapun kalian berada semoga selalu dalam limpahan rohmad dan lindungan-Nya, amin."
Kemaren baru saja aku interview di sebuah perusahaan koran lokal di Solo ini. Meski terlambat alhamdulillah lega dengan wawancara kemaren. Aku pasrah saja, andai aku diterima aku akan senang dengan pekerjaan baruku itu. Wartawan, sepertinya sebuah profesi yang menantang. Semoga aku bisa diterima dan bekerja dengan profesional. Karena aku cinta dengan dunia tulis menulis dan hal-hal yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan. Dan aku juga sangat berharap aku mampu lulus dalam ujian monaqosah nanti. Sehingga di bulan Ramadhan yang mulia ini aku benar-benar menjadi Kawah Condrodimuko bagiku. Semoga bisa menjadi pribadi yang muttaqin. Dan semoga Lebaran nanti menjadi lebaran yang membuatku benar-benar menjadi juara. amin.

READ MORE
0 komentar

Terbuang

Terbuang

Rasa itu tak lagi menyapa
Sudahi saja semua
masa itu tinggal kenangan
yang akan terus membayang di pelupuk mata
Kini aku sendiri
di sini, terbuang 
melesatkan takdir di alam kebebasan
makanan sehari-hari, terasing
aturan hidup yang dulu ku pegang
masih kuat mencengkram
coba tak ku hiraukan
itu semua tak berlaku
bagi binatang jalang yang terbuang
tapi, kebebasan memberiku jatah ruang 
aku bisa bernafas
menghimpun energi bersama imaji di taman mimpi
dan aku tak akan mati
karena aku menggenggam instuisi

 
READ MORE
0 komentar

Twiter

Dengerin ceramahnya Salim A Fillah tentang Twiter. Aku jadi pengen aktif juga di twiter. tapi gratisannya bisanya cuma wat FB. semoga segera dapat trik baru atau segera mendapatkan penghasilan yg cukup untuk segala keperluanku. semoga ilmu, harta, dan umur kita selalu bermanfaat dan dipenuhi dengan kebaikan-kebaikan yah  ^_^
Sorry, sebenernya pengen nulis banyak dan edit ini itu di blog, tapi keadaan nggak memungkinkan. Hidupku juga belum ada perubahan yang signifikan nih.. pengen segera keluar dari situasi ini. semoga segera mendapatakan jalan keluar yang benar dan tempat yang benar dan sesuailah tentunya. amin.
READ MORE
 
;