0 komentar

Santri dan Damainya Negeri

Momentum Hari Santri Nasional 2018 ini terbilang spesial. Gaungnya lebih terasa. Tahun ini temanya Bersama Santri Damailah Negeri. Tema yang tepat. Selain bebarengan dengan tahun politik 2019, belakangan ini bangsa Indonesia memang tengah berduka dilanda bencana. Apa hubunganya, Santri, Pemilu, dan Bencana?

Jika ditilik dari sejarahnya, pemilihan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional dan disahkan oleh Presiden Joko Widodo berdasar Keppres Nomor 22 Tahun 2015 itu sebagai pengingat Resolusi Jihat yang dikobarkan pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy'ari. Waktu itu, KH Hasyim Asy’ari menyerukan kepada para santrinya turut berjuang melawan tentara Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia melalui Netherlands Indies Civil Administration (NICA).

Perjuangan itu pantas kita ingat sebagai santari, generasi penerus negeri. Apalagi, di tengah kondisi persaingan global yang semakin ketat ini. Tentu sebagai santri kita harus terus meningkatkan kualitas kemampuan diri. Jangan cuma puas dengan peringatan Hari Santrinya. Tapi, persiapkan diri kita menghadapi tantangan ke depan.

Momentum Hari Santri Nasional 2018 ini aku katakan spesial, karena bersamaan dengan momentum Pemilu. Secara politik, kita merasakan. Bagaimana belakangan ini isue Suku Agama Ras Antar Golongan (SARA) cukup gencar. Belum lagi maraknya kasus HOAX dalam bingkai politik. Rasanya sudah mendegradasi standard kualitas politik nasional Indonesia ini, semakin merosot jauh. Aku tak ingin menyebut kasus apa dan kubu yang terkait. Aku ingin menyebut semua itu persoalan bangsa. Sehingga, kerangkanya adalah mencari solusi agar kualitas politik negeri ini naik kembali drajad dan martabatnya. Kita semua pasti sudah bosan. Di televisi menyaksikan politisi saling adu argumen tak ada yang mau mendengar. Mereka kekeh dan terus bicara. Semua bicara. Sampai pemandu acaranya kualahan. Membosankan. Tak ada solusinya.

Bersamaan dengan momentum hari Santri ini. Aku berharap para santri dapat duduk dan berdiri pada posisi yang tepat. Sehingga, jika harus masuk ke dalam ranah politik tetap mengedepankan politik kebangsaan. Meski sangat wajar dan dapat dipahami. Santri di tahun politik nanti rata-rata akan berpihak pada pasangan Ir. Joko Widodo - KH. Makruf Amin. Khusunya, yang dari kalangan Nahdliyin. Sebab, figur KH. Makruf Amin yang merupakan guru para santri. Saat ini terpilih mendampingi Presiden Jokowi. Di sisi lain, santri dari kalangan lainya seperti Muhammadiyah dan PKS tentunya mungkin akan memilih Prabowo dan Sandiaga Uno.

Begitu rata-rata prediksinya. Meski sebenarnya, aku berharap santri bersatu. Bermusyawarah dan menentukan pilihan sebagai resolusi jihat di momentum Hari Santri ini. Dari kalangan mana pun, bisa kompak. Jika pun nanti ternyata apa yang diputuskan tak berbuah kemenangan. Siapapun presiden terpilih, santri akan menjadi garda terdepan. Membantu dan mengingatkan jalannya pemerintahan. Demi Indonesia. Demi Islam rahmatanlilalamin.

Sebagai analisis. Menurutku, kalangan santri dan keluarga NU sudah tentu memilih ndherek Mbahkyai Makruf Amin. Bagi santri ndherek Kyai lebih berkah dan menentramkan. Maski hanya bertugas menatakan sandal Kyai, mencuci mobilnya. Pekerjaan itu lebih dipilih dari pada kerja di luar dengan gaji besar.

Dengan semua kondisi itu, Peringatan Hari Santri kali ini bagiku tak hanya sekedar mengenang Resolusi Jihat. Tetapi sekaligus menjadi momentum penentuan Resolusi Jihat politik untuk Indonesia masa depan. Dengan tonggak ini, santri dan politik kini tak dapat dipisahkan lagi. Karena jihat politik untuk membawa masa depan bangsa menjadi salah satu tugas santri. Memperbaiki diri terus menerus. Itu PR ku.

Yang membuat aku sedih. Bersamaan dengan peringatan Hari Santri kali ini, belakangan ini bangsa kita tengah dilanda bencana. Gempa dan Tsunami. Di Lombok dan Palu. Dan daerah lainya. Belum lagi persoalan ekonomi bangsa. Kekeringan. Tawuran berakibat pembunuhan, supporter bola tanah air. Perkosaan berakhir dengan pembunuhan. Banyak lagi persoalan moral bangsa. Khusunya, soal korupsi. Santri, diharapkan menjadi kelompok yang mampu menjadi pembeda. Menjadi bagian dari solusi seluruh persoalan bangsa. Meski tak dipungkiri, santri juga manusia biasa. Tak luput dari salah dan keliru. Namun, dengan budaya ketimuran Indonesia. Santri menjadi sosok ideal. Sosok yang masih diharapkan. Membawa kemajuan. Membawa kedamaian negeri ini.

Dalam peringatan Hari Santri ini, para santri membaca sholawat nariyah untuk kedamian negeri. Selamat Hari Santri Nasional. Damai untuk semua. Semoga.
READ MORE
0 komentar

Kembali Menulis

Gambar diambil dari Nightwish - Dead to the world -Youtube
Rasanya kangen, sudah lama nggak ngeblog. Hari ini Senin, 15 Oktober 2018. Aku bertekad untuk kembali aktif menulis lagi. Setelah membaca tulisanku di blog ini ternyata mimpiku untuk menjadi penulis begitu menggelora. Aku baca satu-satu tulisan itu, satu-satu. Sakit dan mengiris, soal mimpi jadi penulis, soal pencarian cinta sejati, jodoh benar-benar misteri Tuhan.

Ah sudahlah. Ada yang bilang cita-cita itu cuma milik anak SD. Tugas kita yang sudah dewasa adalah berjuang mewujudkan setiap keinginan baik kita. Akan jadi apa nanti ya lihat saja ntar. Okelah. Aku mulai sepakat dengan itu. Tak perlu rumit mikir cita-cita, apalagi cinta. Apa yang ada jalani saja. Usahakan dengan kemampuan terbaik kita. Berdoa dan fokus saja.

Aku sudah mendownload alamat email untuk tulisan di media. Laptop sudah ada. Smartphon juga sudah punya. Referensi sudah ada. Tinggal daya juang dan tekad sekuad baja yang perlu aku tanamkan dalam diriku. Setelah beberapa kali aku malas dan fakum dalam menulis. Kali ini aku harus memaksa diriku. Aku tanamkan disiplin.

Baca buku, baca berita, ikuti isue terhangat. Dan yang paling penting aku akan up grade keterampilan diri, aku sadar aku belum bisa nyetir mobil. Jadi siang ini aku jadwalkan belajar nyetir bersama temanku. Doakan ya, aku segera bisa beli mobil hehe

Udah ini dulu saja untuk mengawali semangatku menulis lagi.
READ MORE
0 komentar

Cinta Datang

Ketika Cinta Datang

Kerling senyummu damaikan hati
Di balik damai aku bernyayi
Kau lah keajaiban duniawi
Datangmu hapuskan sunyi
Bak hujan sehari musnahkan kerak api

Sepagi ini semangat ini membubung tinggi
Cerah berseri-seri ketika rinai percik air menari
Damba temaram rembulan di pelupuk lamun
Menjuntai sendiri di tebing mimpi

Berteman bayang cinta
Urai hati pudarkan duka
Dari penjara cinta
Yang tak jua bersama

Kau lah juwita jiwa
Penentram raga
Ketika usia jauh dari muda
Persandingan keriput penuh makna

Pringgondani, 2008






Rindu Kelabu

Sewindu pilu menjerat hati
Terpekur sunyi di tepi nestapa
Merindu cinta dikala muda
Buang percuma usia menuju senja
Sibak api bakar curiga
Sampai abu kematian pun hilang bau sendu
Hujamkan dosa hingga matikan rindu kelabu
Yang menyayat relung jiwa
Luluh raga bak rasa yang terpisah dari cinta
Hampa penuhi dunia sandiwara
Pentas kehidupan yang penuh drama

Nusantara, 2008







Malam Sunyi

Teriak guntur menggelegar pun tak mampu usikmu
Kian dalam terbenam senyum
Wajar delima damba angkara
Pesonamu terlampau jumawa
Pribadi purba di sore yang tua
Bak simalakama bersandingkan durjana

Terpekur khusuk dalam sunyi
Gelap yang pekat selimuti mimpi
Meronta percuma dibalik jeruji besi
Hingga palu penentu klimaks tiga kali

Benteng Pendem, 2008















Kencana Berseri

Kilau kemilau mengais lara
Tapaki luka resapi ratap
Indah nian pijar mentari duka
Mempesona setiap usia
Hadirkan senja merona merah menyala
Semampai dawai mengalun berirama
Ranum dan matang di usia muda
Peluh keringat saksi nyata
Keriput dan legam kulit terpanggang terik
Banting tulang bukan tidur panjang
Hingga kencana berseri pada waktunya

Figura Mimpi, 2009







Senandung Kasih

Sendu kalabu warna suaramu
Seloroh sukma di tengah gulita
Bak nyanyian sukma terpasung dunia
Kocar-kacir kacaukan pikir dan jiwa

Kau sebut itu rindu
Hingga rayu demi rayu terjamu
Hidangan romantika bercak cinta
Lunglai terkulai hingga klimaks tercipta

Kuburan Kuno, 2009

















Janji Suci

Terpatri cinta di kekang agama
Padu irama cumbui pahala
Cerah ceria senyum menggoda
Kenakan jubah putih penuh wibawa

Bunda, sebutan itu dinantinya
Buah cinta yang ditunggu tak kunjung tiba
Waktu pun tak mau berpisah dengan rahasia
Tabir yang entah di mana gerangan kunci pembuka

Rapal dan mantra tak putus
Bergerak lurus memanjat angkasa
Pengusa langit tersenyum dengan polah tingkahnya
Terus memanjat hingga peluh gairah hiasi ruang rahsia

Ranjang Reot, 2009












Semerbak Embun Pagi

Bening rupamu cemerlangkan sepi
Sunyi mentari grayangi bumi
Merangsek masuk hingga pusat segitiga
Tutup mata satu yang hendak meraih jaya

Meronta percuma
Diam makin sengasara
Pasrah diguyur nestapa
Mengutuk durjana
Dalam diam dendam
Belati apes hujam ulu hati
Iblis terkulai
Tak binasa
Hanya menjelma rupa berbeda
Esok pun kobarkan bara
Dendam dan murka

Semerbak embun pagi
Meredam kobaran durja
Memeluk angkara dengan mesra
Ciptakan perang dalam diam
Hingga masa bertemu ujungnya

Trowulan, 2010

Mawar Mewangi

Merah merekah penuh gairah
Subur menghibur penidur kubur
Sepoi-sepoi berderai rinai wangi semampai
Bisik rintik merintih kasih

Wakil aroma wangi dua alam
Terlihat oleh mata
Teraba oleh batin
Teman cinta dikala bahagia
Sahabat maut dikala duka

Pesarean Cinta, 2010







Duri Terperi

Tajam birumu menyayat lembayu
Melihatmu terbang bersama deru
Sembilu rindu menguar sayu
Sejenak malu kala bertemu
Sadar kini kau tak lagi milikku

Pasanggrahan Mantan, 2011












Kuncup Berair

Kuat arusmu menderu di pucuk sendu
Memahat rekah gelisah kumbang madu
Rayu kupu mekarkan kuncupmu
Sirami cawan suci kala istijab merayu

Basah penuh gairah
Dalam bingkai mesra dan dahaga jiwa
Satu dan padu di atas kuncup
Mendaki puncak kenikmatan penuh madu

Taman Bunga, 2011








Mekar Terpendam

Pekat rautmu di tengah salju
Lembayung pilu mencecap jingga
Merahmu menyala kala surya menyapa
Hadirkan cerah penuh gairah menuju senja

Mendung menggantung berselimut sarung
Usir dingin semangat ibu babaran
Mekar terpendam trekan diam termenung

Trekan, 2011









Senandung Tangkai

Hijau ku sejukkan qalbu
Kuat menyangga riang gembira
Menari lincah tersapu angin
Bolak balik tak kemana
Diam tak bergeming hingga terinjak usia
Hijaumu pudar berganti coklat tua
Hingga rayap menjerat menguraimu
Juga terik membakar yang menyulapmu jadi hitam
Pekat dan terabaikan



Bak Sampah, 2011
READ MORE
0 komentar

Redup

Redup
Kereta durja tembus angkara
Porak poranda di usia senja
Kilau kemilau kenangan kelam
Semakin pekat cahaya pandang masa depan

Santer terdengar caci jua puji
Begitulah bahasa media
Peduli apa dengan semua cecaran KPK
Selama Partai penguasa bersanding harmoni seirama
Jalan mulus kan didapat jua
Peduli apa dengan tingkah Polda
Selama rekrut anggota berbau dupa
Hukum tak kan tegak hanya lantang suara
Peduli apa dengan putusan hakim dan jaksa
Pun mereka tidur saat saksi bicara
Selama mata masih ijo melihat kertas berwarna
Keadilan masih milik mereka yang berharta

Tak hendak gurui pejabat Negara
Putra pilihan dewa
Pewaris sah otak genius Gayus
Keturunan  resmi ganas cabikan Nazar
Sedang rakyat orang biasa
Hanya bisa berciap bak anak itik mencari induknya
Sekali ciap kakinya tersandung
Dua kali ciap terkena pentung
Tiga kali ciap kakinya buntung
Terus berciap RSJ siap menampung

Hei! Jangan salah…
Meski sakit jiwa dan raga
Namun waras mata dan telinga
Jua semangat berbenah berkobar hingga ujung usia
Demi nusantara, tanah air Indonesia
Hidup segan mati tak mau
Itu lah rakyat Indonesia.

Nusantara, Oktober 2012





Kikis
Sabtu pagi sengaja aku mendatangimu
Aku rindu dengan semilir anginmu
Juga cerah cayamu
Aku dengar lagumu sayup merdu
Mendendangkan sewindu rindu
Aku hanya terpaku
Nanar mengamati sekitarku

Deru ombak menghantam lembut bibir samudra
Pantai merah merekah basah penuh gairah
Temani wajah tertunduk
Berselimut duka

Di balik gua Camar mengeintai senja
Ikan Tenggiri bermuram durja
Senja mengapung di atas buih terjeberambab
Kikis hancurkan karang cinta penuh luka
Perih menganga kala air garam membasuhnya
Sejuta benci durjana membalutnya
Satukan kepingan hati dalam peri tiada terkira
Se-ekor kepiting ajaknya bercanda
Takuti lara dengan tipuan warna
Sembunyi pun sia-sia
Kau bukan udang
Juga bukan kepiting
Apalagi kucing

Bersama kuat ombak kau bisa sembuhkan luka
Bersama keras karang kau tegar hadapinya
Bersama kesabaran kikis kau bisa raih cita dan cinta

Pantai Baron Yogyakarta, 2012.




Dilema Wanita

Sabda tentang jebakan dunia begitu tersohor gaungnya
Kau lah salah satunya
Kehidupan dipenuhi cinta
Kau lah tambatan hatinya
Kau lah warna dan kau lah keindahan dunia
Sepakat tanpa rapat manusia kagumi kehadirannya
Ujung kuku dan rambut pun indah adanya
Apalagi bagian yang disukai pria

Santer terdengar dahyat bujuk rayunya
Kau lah salah satunya
Hingga Adam pun tak kuasa
Kau lah penyebabnya
Akan tetapi sudah bukan rahasia
Surga pun di bawah kakinya
Makhluk mulia yang harus dipuji dan dipuja
Tempat meminta restu dan doa

Setan yang bengis bukanlah yang seram menakutkan
Dia berwajah menyenangkan namun mematikan
Jangan Kau silau dengan rayuannya
Hingga surga itu pun tak menjelma neraka
Salam hormatku untuk bidadari dunia
Pemilik sah air mata ketabahan
Hal terindah yang kokoh menyangga negara
Dengan cinta dan tulus kasihnya
Anak manusia terus menjelma
Bertahanlah hingga akhir dunia
Kala manusia deklarasikan kesetanannya

Nusantara, 08 Oktober 2012


Lorong

Ruang gelap
Becek dan busuk menyengat
Dermaga kecoa beristirahat
Setelah melawan terik hari mengais rizqi

Gang sempit
Sahabat jembatan yang disulap menjadi pemukiman padat
Istana senyap kelelawar terlelap
Setelah malam merayap di belantara kota bising dan pengap

Jakarta, 2012




Lebur

Ada dunia di mana beda dan sama tak lagi ada
Hidup harmoni seiring seirama
Tak ada suka apalagi duka
Nampak serupa tapi tak sama
Semua lebur dalam satu nama
Utopia
Kerajaan Bambu, 2012

Cahaya Putih

Wahai cahaya putih
kemilaumu terus membayang dibenakku
kilauan cahaya putih memancarkan keanggunan seorang putri ayu
kini aku terperangkap, terjebak, terjerat kilauan cahaya yg membutakan mataku
ingin rasanya aku mendekat menikmati pesona keanggunanmu
selangkah dua langkah hatiku berdetak tak menentu

Wahai cahaya putih
engkau datang dikala malam panjang membentang berselimut kegelapan
menerangi singgasana hati yang kini dirundung galau sedih yang memilukan

Wahai cahaya putih
engkau datang padaku dengan membawa cinta yang tulus dan suci
engkau sirami tubuh dan jiwaku dengan kelembutan putih cahaya illahi

Wahai cahaya putihku
akankah cinta kita bersatu
berjodoh dibawah restu dan pangestu

Ah biarlah aku ikuti alur cerita cinta yang hanya ada satu diantara seribu
aku yaqin cahaya putih itu adalah jodohku
jikapun raga ini tidak bisa bersama
stidaknya hati dan jiwa kita selalu bertemu di setiap doa dalam sujud kita

Solo, Malam 1 Suro, 26 November 2011



Goresan Cinta Di Hati

Goresan cinta
Goresan hati
Goresan bahagia damaikan jiwa
Goresan luka pedih selimuti hati
Goresan cinta
Goresan tajam
Selimutilah tajamnya cinta dengan hati
Selimut cinta
Selimut luka
Selimut hati
Selimut damai
Selimut cinta lukai hati
Selimut hati obati luka
Cinta yang pedih saat bersama dan berpisahnya hadirkan luka
Hati yang damai saat pedihnya luka cinta lahirkan bahagia
Isyarat hati untuk cinta
Isyarat cinta untuk hati
Bersamai cinta
Bersamai hati
Damaikan jiwa lahirkan bahagia

Solo, 23 Juli 2010


Mean of mind

Mean of mind come from eyes
Mean of mind come from ears
Mean of mind come from feels
Love begin beautifully
Sorrow but pleasure till the last time
Passion makes passionate
Love makes life
Mean of mind from love
Mean of mind from passion
Love and passion mean of mind from eyes, ears, and feels

Solo, July 25, 2010











Saat Kekasihku Meledak
Taman bale kambang menjadi saksi bisu
Marahmu meledak sehari sebelum bulan ramadhan
Engkau meledak menutupi salah
Engkau meledak sambil mengucap maaf
Dari samping aku tersenyum memandangmu
Ucapan dari wajahmu yang penuh amarah membuatku terpancing
Tidak! Aku tidak mau meledak
Aku harus pergi, Pulang saja daripada emosi terus bawaanya
Tidak! Aku tidak mau meledak
Saat melepas rindu berubah jadi sembilu
Tidak, aku tidak mau meledak
Saat di rumah adi ari-ariku berbisik
Kakang kawa pun tidak mau kalah
Beradu peran dan kekuatan mempengaruhiku
Akhirnya kuputuskan sebuah pilihan!
Isyarat hati dari cinta yang tulus dan suci ku kirimkan pesan bertuliskan “kan ku raihmu”
Kusiapkan perisai cinta dan ku tancapkan panah asmara
Sekarang aku tahu bahwa engakau tidak mau aku memiliki sifat buruk lelaki itu
Lelaki yang amat engakau kagumi sampai engkau tahu bahwa lelaki itu punya kelemahan dan sifat buruk itu amat menyakitimu sampai-sampai engaku tak lagi bisa percaya denganya
Bahkan wanita yang teramat dekat denganmu itu tak lagi percaya dengan lelaki yang sering engkau sebut “Abah” itu
Akhirnya satu persatu kupunguti keepingan-kepingan ledakanmu
Kusatukan dengan satu harapan dengan satu kesempatan yang ku mohon dan engkau kabulkan
Untuk menjadi lebih baik
Hidup bahagia di dunia dan akhirat.

Solo, 10 agustus 2010


Bandara Jadi Saksi Bisu Usahamu Mempertahankanku

Selembut bayu lepaskan daun dari ranting
Selembut sentuhan sang bayu
mempesonakan dedaunan
di kala esok dan petang menjelang

Rayuannya menggelora
membuat melayang
perlahan dengan penuh keyakinan

Satu per satu daun berguguran
lepas dengan ikhlas dari dahan
tanpa goresan dan luka dari kursi pesakitan

Sekejab membayang
saat tubuhnya nampak muda kehijauan
dinginkan mata yang tak tahan godaan
sejukkan kota dari terik dan pencemaran lingkungan

Kini lembaran tubuhnya
semakin memudar
menguning dan mengering

Kekar jari tanganya tak mampu lagi berpagangan
pada ranting seperti saat bersanding
pasarah pada terpa bayu yang menurut pada musim
melayang, berputar, menukik dan terbalik
akhirnya jatuh tersungkur di tanah berbatu

Tubuh ringkihnya tak lagi mampu bertahan
samar-samar tebayang
saat asyik memproses makanan
dia mengenalnya dari cerita akar

Sebuah kisah tentang tanah di suatu negeri
kisah tentang tanah yang subur di negeri yang makmur
negeri dimana tongkat dan batu jadi tanaman
mereka hidup rukun berdampingan

Cerita usang yang dibawa air
pada batang dan ranting
saat daun masih bersanding

Matanya terpejam
siapkan diri
jalani pertapaan yang suci
bersamai air dan tanah
dengan senyum yang merekah

Solo, 25 Januari 2012










Kembang Cinta
Gelisah malam diantara gemerlang bintang
Cahaya bulan sirami hamparan bumi tuhan
Warna biru pekat bertabur duka
Debu bertebaran terombang-ambing cepat lambat gerakan dijalanan
Cahaya merkuri menampakkan keruh dunia
Hampa
Apalah hidup
Apalah artinya
Bila sendiri
Tanpa cinta
Kembang cinta terus kusirami
Tapi durinya terus menusuk hati

Balekambang, 2011






Seutuhnya Ku Persembahkan Untuk Cinta

Beku ku rasa selimuti hariku
Bingung dan malu mengungkapanya tapi tak apalah toh inilah nyatanya
Hari-hariku terasa beku tanpamu
Tak banyak hal berharga yang bisa kulakukan
Apa mau dikata, perpisahan adalah pilihanmu
Sedang cinta itu masih ada dan terus menghujam ke relung jiwa
Sakit memang sakit
Tapi hidup ini terlalu remeh jika harus mati karena sakit hati
Mau aku tutup-tutupi juga percuma
Berkeras menghindari, menghapus dan melupakan hanya sia-sia
Bukannya sirna malah rasa itu semakin kuat mencengkeram, melemahkan setiap kemampuan rasa dan logika yang ku punya
Tak berlebihan jika aku katakan aku tak bisa hidup tanpamu
Ah….baru aku sadari, ternyata aku butuh cintamu untuk menghidupkan kembali kesadaran rasa dan logiku yang terpenjara rasa cinta yang tak bisa menyatu ini.
Yang ku tahu sampai detik ini
Aku merasa kita masih saling cinta
Yah… itu masih sangat bisa aku rasa
Biarlah sekali lagi aku coba ungkapkan
Dengan bait syair yang terkupul dari kata-kata ini
Kata yang tak bisa terkorup seperti kekayaan bangsa kita
Kata yang selalu jujur dengan makna dan kandungannya
Dengan ikhlas aku persembahkan syair ini untukmu agar kamu tahu betapa lama aku menunggumu, menunggu penyatuan cinta kita
Tak mudah memang menjaga dan mempertahankan kesetiaan di zaman kleptolitikum ini, karena di zaman ini cinta tak lagi berarti, semua dinilai dengan materi, sungguh ironi dan mengiris hati.
Aku tak tahu apa ada keajaiban yang mampu menyatukan cinta ini
Denga tegas aku katakan
Aku tak mau menukar cintaku dengan materi berapapun itu
Cinta itu dari hatiku
Bisikanya ku dengar dan kulakukan
Kita memang berbeda tapi juga sama kok…
Sama-sama tak sempurna, gampang sakit kepala, gampang sakit perut, dan tempramen kita tinggi
Namun bagiku kamu tetap baik, cantik, dan jelita
Yah..ku kira cukup demikian saja, toh klo dituruti ga akan ada habisnya.
Yang ku tahu syair ini akan lebih mewaktu daripada usia kita, dari itu aku berani mewakilkan syair ini sebagai ungkapan cintaku padamu
Semoga kamu terima persembahan syair ini dengan ikhlas, yah engkau tahu telah ku persembahkan seutuhnya untuk cinta
Salam cinta.

Solo, 12 November 2011











Aku

Aku
Aku adalah Ane kata encek
Hingga bidadari malu bergelantungan di jenggotku
Ku jaga trahku hingga tak tercampuri olehmu
Tidak juga kau

Aku
Aku adalah Ana kata aktifis dakwah
Bila sampai waktuku ku mau ngaji terus
Tak kan ku istirahat sebelum kakiku menginjak surgaMu
Perbaikan umat ruh jihadku

Aku
Aku adalah Eke kata bencong
Hingga tukang becak pun puas denganku
Meski dingin malam menyayat lukaku
Ku kan terus beroprasi
Hingga hilang gatal geli
Aku
Aku adalah Gue kata anak Jakarte
Tawuran kujadikan budaye
Hingga hilang banyak nyawe
Juge macet banjir menggile
Aku tetap acuh aje
Muke gile

Aku
Aku adalah Ai orang bule say
Moderen kutebar hingga ke ujung dunia
Hingga rok mini jadi cemilan renyah tiap hari
Dan kan ku keruk kekayaan bumi gemah ripah loh jinawi
Hingga seribu tahun lagi

Kopi Susu, 27 Desember 2012




Aneka Rasa
Serabut gelisah mengiris malam
Tawarkan penat lelah hati
Saat masa tercabik dusta
Sepi meringis dengan wajah berseri
Masa itu kini telah berlalu
Berganti rindu berbalut sembilu
Entah kapan cinta berpadu
Temu dua raga dengan syahdu
Oh, rahasia...
Ujung rasa gelisah aneka warna
Dari gelap yang pekat penuh trauma
Hingga dompet cerah ceria di tanggal tua
Jua harum aroma bunga maya dengan segala keindahannya
Lembut suaranya menggoda
Wangi tubuhnya menyandra hingga ujung usia
Cerah warnanya menjerat lamunanku setiap waktu
Oh, Rasa..
Isyaratmu ambigu
Akar kasih pun layu
Rumput liar pun mulai tumbuh
lahirkan ragu curiga dan cemburu
Hingga jenuh bergemuruh riuh
Semua Sirna kala lapar menyapa
"Aku Harus Bekerja!"

Ruang Hampa, 19-12-2012














Salah
Bukan, bukan lah sepenuhnya salahmu jika hatimu meragu.
Memang normalnya begitu, kau harus meragu.
Bukankah kita tak saling tahu juga bertemu.
Wajar lah jika kau memilih untuk melepasku.
Kembali cumbui dirimu yang lalu.
Diri yang kau rindu.
Doa,
yah... hanya itu yang mungkin ku harapkan bisa bertemu.
Lima waktu yang pasti dalam sehari kita akan bertemu.
Setidaknya berbalut doa sapu jagad kita itu.
Juga mantra kesuksesan kita untuk bertemu di titik sukses dunia dan akhirat itu.
Satu yang pasti aku merinduimu.
rindu yang mungkin kau anggap dosa itu.
kini terus menghantuiku.
Salah, iya memang benar aku yang salah.
salah karena telah jujur padamu.
salah karena cinta itu menyapaku.
juga rindu, curiga dan kecewa.
Meraka bersatu hendak menjatuhkanku.
Tapi satu yang pasti.
Cinta suciku menyembuhkanku.
Hingga gerbang waktu terbuka.
Saat itu lah bahagia dalam rindu dan cinta bertemu.
Ruang Kosong, 2012

Kau, Bukan Mereka Atau Dia
Musim,,,
kau tahu? kita ini sama!
Sama-sama sedang menunggu
Tunggui hujan
Gantikan kemarau yang terik.... kerontang... Garing!

Musim,,,
Aku butuh tongkat wali
Yang bisa ciptakan mata air cinta
Dari bidadari surga dunia yg bernama hawa

Bukan,,,
Bukan hawa yang panas
Juga bukan hawa yang dingin
Aku hanya minta satu
Satu saja yang meneduhkan
Tapi bukan mereka atau dia

Kau...
Kau lah yang aku tunggu
Hingga kemarau panjang membentang
Juga banjir bandang menerjang
Aku tetap bisa bertahan
Ruang Penat, 2012

Pasir Terakhir
Tarian jemarimu mengusik anganku

Aku cemburu

Pada ksatria bersenjata gada

Aku juga ingin membungkus imaji

Dalam secangkir kata penuh makna

Dengan racikan bumbu sederhana

Aromanya usik samudra

Bergelora....

Meski!

Deburan ombakmu parau

Riakmu jamahi hingga pantai...

Basahi senja di pelupuk mata

Gerogoti pasir terakhir

Tempat kaki cinta berpijak...

Kau tahu?

Aku bukan salah satu pendawa

Yang sangat kau puja

Aku hanya sebutir pasir

Singgasana para dewa

Meramu cinta di dalam tangis dan tawa

Pantai Kehidupan, 2012





Terbuang
Rasa itu tak lagi menyapa
Sudahi saja semua
masa itu tinggal kenangan
yang akan terus membayang

Kini aku sendiri
di sini, terbuang 
melesatkan takdir di alam kebebasan
makanan sehari-hari, terasing
lepas dari protokoler kehidupan

Aturan hidup yang dulu ku pegang
masih kuat mencengkram
coba tak ku hiraukan

Percuma!
sia-sia....
itu semua tak berlaku
bagi binatang jalang yang terbuang 
Tapi, di sini aku senang
kini hatiku tentram
kebebasan memberiku jatah ruang 
aku bisa bernafas
menghimpun energi dari hati
bersamai imaji di taman mimpi

Berkeras melawan rintangan hari
dan aku tak akan mati
karna aku menggenggam instuisi
 Atap, 2012


READ MORE
 
;