Sabtu, 08 November 2014

Cerita Tentang Solo Mengajar

Tulisan adalah satu cara membuat keabadian. Begitu kira-kira pesan para guru saat menasehati murid-murid yang pelupa. Salah satunya murid itu tentu saja saya hehe. Sejak itu, saya masih berusia sangat belia. SD kelas 4 seingat saya waktu itu. Maka, saya sering corat - coret meski entah apa jadinya. Namun, dari sekian tulisan Puisi adalah kegemaran saya.

Hingga sekarang saya sudah lulus kuliah dan aktif di sebuah gerakan masyarakat yang fokus pada dunia pendidikan. Gerakan itu bernama Solo Mengajar.

Senin, 16 Juni 2014

Tentang Puisi

Puisi memiliki arti tersendiri dalam hidupku. Dia tak hanya kata yang dipilih dan terangkai dengan indah. Lebih dari itu, puisi seperti hidup bagiku. Hingga ingin rasanya aku membagi rasa cintaku pada puisi hingga menghidupkannya pada orang-orang yang kuanggap cocok denganku. Tidak banyak yang kupercaya mengenai puisi-puisi ini. Ini semua reflek dari hati, jika aku mengajak seseorang bermain puisi pasti dia itu kuanggap orang yang special. Tapi kemampuanku hanya iktiar dan mengajak, selebihannya diluar kapasitas dan otoritasku.

Seperti anak2 didikku yang ada di Taman Cerdas Pajang ini. Mereka aku ajari berpuisi, mengembangkan bakat mereka tanpa harus malu atau merasa yang tidak sehausnya. Aku meyakinkan mereka bahwa mereka bisa. And Finally... This is their poems..

Kebahagiaan itu jika apa yang telah kita sajarkan itu ada gunanya. Dan aku merasakannya, sedikit hal yang membuat hidupku bahagia adalah ilmu yang bermanfaat. Bagiku kata-kata itu adalah makhluk-Nya yang tidak kalah dahsyat dan mengagumkan.

Buat kamu yang ada dirantau. Di tempat yang jauh dari tempatku, diujung barat yang hanya bisa aku bayangkan karena aku belum mengambah tempat itu. Hanya cerita bertutur dari teman dan saudara. Tempat yang dekat dengan negara Tetangga, khas dengan budaya Melayu. Tempat yang mudah mencari duit. Hari gini siapa sih yang tidak suka dengan duit. Semua orang pasti suka. Dan aku selalu salut dengan orang yang mau merantau jauh demi kemandirian untuk membahagiakan kelaurga. Tapi aku ingin tetap di sini rasanya. Dekat dengan keluarga, ada yang bilang rejeki yang mengatur adalah Yang Mahakaya. Di mana pun tempat selama rejekimu tidak akan tertukar. Aku hanya bisa berusaha dan berdoa bisa meniti sukses di tempat yang dekat dengan keluargaku, orang tuaku.

Hai Anak Perantau

Hai, anak perantau
Perkenalan kita untuk sebuah jodoh
Meski berkahir dengan hal lain
Tak mengapa setidaknya
Kita masih saling menyapa
Meski, kini kau berada di tempat yang jauh
Perantau
Ku sebut kau kini

Hai, anak perantau
Kini kau tinggal di tempat baru
Hidup dengan ilmu
Serta keindahan kharismamu

Hai, anak perantau
Satu pintaku jaga hatimu
karena entah kenapa?
Aku
Akhir-akhir ini suka menyebu namamu
Aku tak tahu dengan pasti
Tak mampu menerka
Tanda apa itu?

Hai, anak Perantau
Yang pasti ku yakinkanmu
Di sini
Aku hanya mampu bermunajad
Bahagiamu dan Perlindungan Robbku senantiasa menyertaimu, amin...

Kota Budaya, 16 Juni 2014

Minggu, 01 Juni 2014

Ramadhan, aku siap menyambutmu

Bulan suci Ramadhan, bulan mulia yang penuh pahala. Siapa yang tak merindukannya? Tentu semua orang yeng beriman rindu bertemu lagi dengannya. Dan itulah yang sekarang aku rasakan. Saat ini saat yang tepat untuk persiapan. Meski agak telat hehe. Namun, doa Allohuma fi rajab wa sya'ban wa balighna ramadhan senantiasa aku panjatkan kok. Semoga dengan doa itu aku selalu dalam lindungan hingga berjumpa dengan Ramadhan tercinta.

Aku awali dengan membersihkan diri lahir dan batin. Meninggalkan maksiat dan merapatkan ibadah wajib serta ditambah ibadah sunah yang memungkinkan. Aku yakin suatu saat semua akan berjalan dengan baik jika kita menjalaninya dengan penuh kesungguhan untuk menjadi baik.

Cinta, biarlah mengalir saja. Semua akan berjalan dengan santai, Semoga semua dapat mengerti. Sekarang aku benar-benar ingin fokus dalam karir. Berjuang mewujudkan mimpi jadi penulis. Berjuang menjadi pribadi yang benar-benar mandiri dan bermanfaat.