Sabtu, 24 Januari 2015

Setapak Lagi Meraih Mimpi 2015

Hemmmmm.... rasanya sudah lama tidak menulis di blog. Hee tapi ini bukan obat rindu. Semoga aku bisa memulai lagi rajin menulis dan cerita lagi di sini. Doain yah yah yah....
Duh mulai dari mana ya aku ceritanya?

Begini, sekarang aku sudah pindah kerja di media yang lain tapi tetap sama jadi Jurnalis juga. Aku di tempatkan di wilayah Karanganyar. Karena kesibukanku dengan pekerjaan dan ingin meraih mimpi lanjut kuliah lagi ambil S2 maka aku ingin tidak terlalu aktif di Solo Mengajar. Ya mungkin aku masih bantu-bantu di Taman Cerdas Pajang, soale anak-anaknya itu suka bikin kangennnnnn.....

Kabar baiknya, tabunganku sudah mencukupi untuk mendaftar di Jurusan yang aku suka, yakni Kajian Budaya UNS. Pekan ini rencananya aku ingin daftar setelah melengkapi semua persyaratannya. Semoga semua lancar dan dimudahkan, amin.

Masalah asmara, hahaha.... jadi malu menceritakannya. Ssssttttttt... aku baru saja ditolak nih, tapi gapapa juga sih. Santai, kan sudah biasa ditolak, menolak juga sering. Setidaknya aku sudah berani mengungkapkannya. Bagiku ini kusebut kenikmatan yang luar biasa bagi seorang lajang.

Ah udah ah bahas masalah asmara, gini aja aku ceritakan hal yang paling nyesekkkkkkkk di dadaku ini aja gi mana hahahaha.... sok banget. Emang apa sih kok sampai segitunya? Qiqiqiqiqi tu kan mulai KEPO haha.
Itu lho yang cita-citaku menjadi penulis dan punya karya berupa buku dari dulu itu. Kau tahu? Sampai detik ini semua itu masih belum juga bisa terwujud. Nyeseg banget kan? Iya sih hihiihihiiii puk2 dunk hua hua hua.....

Nah, meski gagal lagi dan lagi. Aku belum mau menyerah aku masih ingin membuktikannya lagi, berusaha mewujudkannya hingga semua mimpi ini tinggal jadi coretan. Dan aku bisa terbang menggapai dan membelai semua impianku itu.

Hopefully, my dreams come true, amin -________-

Udah ya sampai ini dulu aja, nanti kita lanjut tulisan yang lucu, serius juga kaliiiiiiii.........
Dahhhhhh :)

Sabtu, 08 November 2014

Cerita Tentang Solo Mengajar

Tulisan adalah satu cara membuat keabadian. Begitu kira-kira pesan para guru saat menasehati murid-murid yang pelupa. Salah satunya murid itu tentu saja saya hehe. Sejak itu, saya masih berusia sangat belia. SD kelas 4 seingat saya waktu itu. Maka, saya sering corat - coret meski entah apa jadinya. Namun, dari sekian tulisan Puisi adalah kegemaran saya.

Hingga sekarang saya sudah lulus kuliah dan aktif di sebuah gerakan masyarakat yang fokus pada dunia pendidikan. Gerakan itu bernama Solo Mengajar.

Senin, 16 Juni 2014

Tentang Puisi

Puisi memiliki arti tersendiri dalam hidupku. Dia tak hanya kata yang dipilih dan terangkai dengan indah. Lebih dari itu, puisi seperti hidup bagiku. Hingga ingin rasanya aku membagi rasa cintaku pada puisi hingga menghidupkannya pada orang-orang yang kuanggap cocok denganku. Tidak banyak yang kupercaya mengenai puisi-puisi ini. Ini semua reflek dari hati, jika aku mengajak seseorang bermain puisi pasti dia itu kuanggap orang yang special. Tapi kemampuanku hanya iktiar dan mengajak, selebihannya diluar kapasitas dan otoritasku.

Seperti anak2 didikku yang ada di Taman Cerdas Pajang ini. Mereka aku ajari berpuisi, mengembangkan bakat mereka tanpa harus malu atau merasa yang tidak sehausnya. Aku meyakinkan mereka bahwa mereka bisa. And Finally... This is their poems..

Kebahagiaan itu jika apa yang telah kita sajarkan itu ada gunanya. Dan aku merasakannya, sedikit hal yang membuat hidupku bahagia adalah ilmu yang bermanfaat. Bagiku kata-kata itu adalah makhluk-Nya yang tidak kalah dahsyat dan mengagumkan.

Buat kamu yang ada dirantau. Di tempat yang jauh dari tempatku, diujung barat yang hanya bisa aku bayangkan karena aku belum mengambah tempat itu. Hanya cerita bertutur dari teman dan saudara. Tempat yang dekat dengan negara Tetangga, khas dengan budaya Melayu. Tempat yang mudah mencari duit. Hari gini siapa sih yang tidak suka dengan duit. Semua orang pasti suka. Dan aku selalu salut dengan orang yang mau merantau jauh demi kemandirian untuk membahagiakan kelaurga. Tapi aku ingin tetap di sini rasanya. Dekat dengan keluarga, ada yang bilang rejeki yang mengatur adalah Yang Mahakaya. Di mana pun tempat selama rejekimu tidak akan tertukar. Aku hanya bisa berusaha dan berdoa bisa meniti sukses di tempat yang dekat dengan keluargaku, orang tuaku.

Hai Anak Perantau

Hai, anak perantau
Perkenalan kita untuk sebuah jodoh
Meski berkahir dengan hal lain
Tak mengapa setidaknya
Kita masih saling menyapa
Meski, kini kau berada di tempat yang jauh
Perantau
Ku sebut kau kini

Hai, anak perantau
Kini kau tinggal di tempat baru
Hidup dengan ilmu
Serta keindahan kharismamu

Hai, anak perantau
Satu pintaku jaga hatimu
karena entah kenapa?
Aku
Akhir-akhir ini suka menyebu namamu
Aku tak tahu dengan pasti
Tak mampu menerka
Tanda apa itu?

Hai, anak Perantau
Yang pasti ku yakinkanmu
Di sini
Aku hanya mampu bermunajad
Bahagiamu dan Perlindungan Robbku senantiasa menyertaimu, amin...

Kota Budaya, 16 Juni 2014